Sampah plastik yang bertebaran di mana-mana seakan bukan sesuatu yang baru. Apalagi saat event penting atau skala nasional, misalnya saat tahun baru, lebaran, tempat sampah bahkan TPU/TPA tak mampu menampung lagi.
Hasilnya?
Tumpukan sampah seperti sampah plastik merajalela, seperti yang terjadi di Tangerang beberapa saat yang lalu. Mirisnya, tidak sedikit yang bingung cara mengatasinya bahkan terkesan mengulur waktu untuk melakukan penanganan yang tepat.
Lantas bagaimana cara penanganannya?
Sebelum itu, yuk kenali dulu apa itu sampah plastik, jenis, dampaknya hingga solusinya seperti apa.
Jangan Anda skip ya!
Apa yang Dimaksud dengan Sampah Plastik?
Sampah plastik merupakan limbah padat yang asalnya dari produk dengan bahan polimer sintetis yang sudah dibuang/tidak terpakai. Jenis sampah ini bisa berasal dari aktivitas rumah tangga, komersial hingga industri.
Plastik itu sendiri memiliki sifat yang susah terurai secara alami. Bahkan butuh hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Karena itu, jenis sampah ini susah untuk diurai dan dapat menyebabkan pencemaran yang serius bagi lingkungan dalam jangka panjang.
Lantas apa saja contohnya?
Contoh yang paling sering Anda temui adalah kemasan makanan dan kantong belanja.
Jenis-Jenis Sampah Plastik

Umumnya, sampah plastik dipisah menjadi 2 kategori, yaitu plastik yang bisa didaur ulang dan plastik residu.
Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, ada setidaknya 5 jenis plastik yang kerap menjadi sampah.
PET/PETE
Pertama ada Polyethylene terephthalate atau PET/:PETE. Jenis plastik ini biasanya untuk botol air mineral, botol minuman soda hingga wadah selai karena warnanya jernih, kuat dan kedap gas/air.
Umumnya, botol yang menggunakan bahan PET ini ada label angka 1 dan disarankan hanya untuk 1x pakai saja.
HDPE
High-density polyethylene atau HDPI memiliki kode angka 2. Jenis material ini cenderung lebih kaku, tahan panas tapi aman untuk digunakan berulang kali.
Contoh sampah dengan bahan HDPE adalah pralon, botol sampo, galon air minum hingga kantong belanja yang tebal.
PVC
Polyvinyl chloride atau PVC memiliki kode angka 3. Jenis material ini umumnya digunakan untuk membuat pipa air, kabel listrik, pembungkus plastik non pangan hingga ubin pemandu (guiding block).
Karakteristik dari material ini adalah mengandung bahan kimia berbahaya dan sangat kuat sehingga susah untuk Anda daur ulang.
LDPE
Low-density polyethylene atau LDPE memiliki karakteristik yang lentur, transparan tapi memiliki daya tahan yang baik.
Jenis material yang memiliki kode angka 4 ini umumnya untuk bahan kantong plastik (kresek) hingga plastik pembungkus makanan.
PP
Polypropylene atau PP memiliki kode angka 5. Jenis plastik ini adalah plastik paling aman untuk wadah minuman dan makanan terutama saat dalam kondisi panas.
Misalnya wadah makanan, sedotan, gelas plastik. Karena itulah sektor bisnis seperti UMKM banyak yang menggunakan jenis plastik ini untuk wadah makanan/minuman.
PS
Polystrene atau PS memiliki kode 6. Jenis material ini memiliki karakteristik yang ringan yang dapat melepaskan bahan karsinogenik saat terkena panas. Sayangnya, material ini digunakan untuk membuat wadah makanan sekali pakai, styrofoam, bahkan sendok/garpu plastik.
MLP
Multilayer plastic atau MLP merupakan material kemasan yang terdiri dari beberapa lapisan bahan yang berbeda, bahkan bisa mencapai 11 lapisan. Kemudian direkatkan jadi 1 untuk mengoptimalkan fungsi atau perlindungan produk.
Umumnya, bahan yang digunakan adalah PE, PP, aluminium foil dan kertas. Karakteristiknya ringan dan biasanya digunakan sebagai pembungkus. Seperti pembungkus sabun, kopi, saus, bumbu instant.
Baca Juga
Dampak Sampah Plastik

Lalu, bagaimana jika sampah plastik terus menumpuk tanpa diatasi?
Setidaknya ada 5 dampak sampah plastik yang akan terlihat atau dirasakan oleh manusia.
Kerusakan Lingkungan
Plastik termasuk sebagai material yang susah diurai. Penumpukan sampah dari plastik dapat menghambat sirkulasi udara serta penyerapan air ke tanah. Alhasil, kesuburan tanah akan menurun.
Di sisi lain, penumpukan sampah plastik juga dapat memicu pendangkalan terutama di aliran sungai. Karena itulah, ketika hujan khususnya saat hujan deras, bisa menyebabkan banjir.
Mikroplastik
Tumpukan sampah plastik yang menumpuk akan terurai menjadi mikroplastik.
Di tanah, mikroplastik akan mengubah struktur tanah, mengganggu organisme tanah seperti cacing hingga menyebabkan penurunan kesuburan tanah.
Jika di air, seperti di sungai, danau atau laut, dapat menjadi penyebab pembawa zat berbahaya seperti bahan kimia yang beracun. Dalam jangka panjang, bisa menyebabkan keracunan mikropalastik atau toksik mikroplastik.
Permasalahan utamanya adalah mikroplastik ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang karena ukurannya yang sangat kecil, sekitar < 5 mm. Jika dibiarkan saja akan memberikan dampak yang signifikan dan susah dipulihkan.

Mengganggu Rantai Makanan
Ada proses yang bernama bioakumulasi dan biomagnifikasi.
Bioakumulasi merupakan proses zat seperti Cs-137 dari waktu ke waktu dalam suatu organisme hidup, misalnya dari makanan yang terkontaminasi. Sedangkan biomagnifikasi adalah proses senyawa terkonsentrasi di dalam jaringan organisme ketika ia naik ke atas di dalam suatu rantai makanan.
Adanya 2 proses tersebut membuat makhluk hidup seperti manusia yang ada di puncak rantai makanan teracuni oleh microplastik yang masuk ke tubuh.
Adakah dampaknya?
Dalam jangka waktu yang panjang, bisa menyebabkan gangguan kesehatan seperti menurunnya fertilitas hingga kematian massal.
Polusi Udara
Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang utama terjadinya polusi udara, khususnya karena proses pembakaran sampah.
Dari proses pembakaran ini, beberapa zat beracun terlepas seperti zat karsinogenik dan parkulat halus (PM 2.5). Di sisi lain, bau dari sampah plastik yang bercampur dengan zat makanan yang membusuk, bisa menyebabkan pencemaran udara.
Meningkatkan Emisi Gas Rumah Kaca
Sadar atau tidak, jika ternyata sampah plastik juga berkontribusi secara siginifikan terhadap perubahan iklim lho!
Kok bisa?
Sampah plastik yang terpapar sinar matahari baik di darat ataupun di air, dapat melepaskan gas metana dan etilen yang menyebabkan proses pemanasan global menjadi lebih cepat.
Di sisi lain, emisi karbon pun akan meningkat karena saat pembakaran, jumlah karbondioksida yang terlepas ke atmosfer akan lebih besar.
Permasalahan Pengelolaan Sampah Plastik di Indonesia

Lantas, bagaimana di Indonesia?
Dari data SIPSN Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berasal dari 348 kabupaten se-Indonesia, ada sekitar 38 juta ton per tahun sampah. Sampah yang baru terkelola adalah sekitar 34,25% saja dan yang belum terkelola mencapai 65,75%. Cukup fantastis bukan?

Sampah plastik menduduki peringkat ke-2 dari total sampah di Indonesia setelah sisa makanan dengan persentase 19,6%. Mirisnya, dari total sampah plastik tersebut, 36%-nya bocor ke lingkungan terbuka dan perairan. Tidak heran jika Anda dengan mudah menemukan sungai atau bahkan muara yang warnanya kotor dan penuh dengan sampah plastik.
United Nations Environment Programme (UNEP) bahkan memprediksi jika jumlah sampah yang masuk ke ekosistem laut, di tahun 2040 meningkat 3x lipat.
Lantas kenapa sampah plastik di Indonesia seakan semakin menggunung?
Ada beberapa permasalahan yang dihadapi, di antaranya:
- Pemilahan sampah yang masih rendah
Sampah plastik dibuang bercampur dengan sampah yang lain seperti makanan, cairan hingga material lainnya yang membuat plastik susah didaur ulang. Jikapun bisa, akan meningkatkan biaya dan waktu untuk proses daur ulang.
- Ketergantungan akan TPA dan open dumping
Di Indonesia, sistem pengelolaan sampah masih bertumpu pada penumpukan di TPA dan pembakaran terbuka. Alhasil, cara ini tidak dapat mengatasi penumpukan sampah dalam jangka waktu panjang dan justru berpotensi mencemari ekosistem.
- Ketebatasan infrastruktur pengolahan
Alasan sebelumnya bisa jadi akibat tidak adanya keterbatasan infrastruktur pengolahan sampah yang tepat. Misalnya, belum banyaknya tempat pengolahan terpadu, bank sampah yang aktif dan mesin pengolah atau mesin pencacah sampah plastik yang tersedia.
- Ketebatasan teknologi dan SDM
Tidak hanya infrastruktur, di Indonesia juga masih terbatas terkait SDM dan tentunya anggaran. Jika 2 hal tersebut bisa terpenuhi, maka permasalahan sampah bisa sedikit demi sedikit teratasi.
@alatusahaindo Semoga kasus ini bisa kita ambil hikmahnya ya Fumers ☺️🙏🏻 #sampahtangsel #tangsel #tpacipeucang #insinerator #futakemesin
♬ original sound – Futake Hardware Indonesia – Futake Hardware Indonesia
Solusi Pengelolaan Sampah Plastik
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, solusi paling mendasar adalah SDM dan anggaran.
Pemerintah perlu merangkul seluruh lapisan masyarakat untuk belajar memilah sampah dengan tepat. Misalnya memilah antara sampah plastik, organik dan residu. Pemilahan ini, bisa dipermudah dengan tempat sampah 2in1 atau 3in1.
Dengan begitu, proses pemilahan dan daur ulang bisa lebih cepat dan value dari sampah plastik itu sendiri bisa meningkat.
Tidak hanya itu, di masyarakat perlu konsistensi penggunaan kantong belanja dan wadah sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Tindakan dari masyarakat ini juga perlu didukung oleh pemerintah dari tingkat desa hingga pemerintah pusat. Di desa, perlu adanya bank sampah yang aktif. Sedangkan di tingkat yang lebih tinggi, perlu adanya:
- Penyelenggaraan pelatihan untuk pengolahan sampah.
- Penyediaan infrastruktur dan alat untuk pengelolaan sampah plastik yang lebih modern seperti incinerator dan mecin pencacah plastik.
- Pembuatan kebijakan terkait penggunaan plastik dan sampah plastik. Misalnya penggunaan plastik yang lebih mudah untuk didaur ulang.
Pastinya, pengelolaan sampah plastik khususnya di Indonesia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Apalagi jika mengingat perubahan iklim yang semakin ekstrim, resiko bencana alam dan kesehatan masyarakat jadi taruhannya.
Karena itulah, dengan pendekatan dan pemilihan teknologi yang tepat, dapat membantu menjawab masalah lingkungan karena sampah plastik.
Jadi, siap untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih? Hubungi kami sekarang juga atau klik tombol di bawah ini dan akan kami bantu segera!
Ingin Pengelolaan Sampah yang Lebih Efisien?
Kenali spesifikasi mesin sampah dalam sistem pengolahan sampah modern.

3 Fakta dan Beautifikasi Stasiun Klaten 2024 yang Semakin Cantik
Read MoreSuperiman #3: Etos Kerja dalam Islam
Read MorePengiriman Mesin Pengolah Kompos ke PT TWC Prambanan
Read More